Begini Caranya Mempercepat Panen Bandeng Dengan Gedebog Pisang. Bagikan ya..!!

Begini Caranya Mempercepat Panen Bandeng Dengan Gedebog Pisang. Bagikan ya..!!
Gambar hanya ilustrasi saja.
SeputarTambak - Keberhasilan Muhidin beternak bandeng tidak lepas dari teknologi yang baru diterapkannya: tidak perlu diberi pelet, tinggkat kelulusan hidup 97-98%, padat penebaran tinggi, dan masa pengusahaannya cuma 50 hari. ‘Saya hanya mengikuti anjuran Bapak Junaedi,’ ungkapnya singkat. Junaedi yang dimaksud adalah seorang formulator pupuk yang mencoba membantu meningkatkan hasil panen para petambak bandeng di daerah pesisir utara Cirebon.

Ketika dikonfirmasi, Junaedi mengatakan lahan-lahan tambak di pesisir utara Cirebon sudah rusak, miskin hara. ‘Dengan kondisi miskin hara tidak mungkin petambak bandeng mendapat hasil tinggi. Bahkan ada petambak kawakan bilang, beternak bandeng di pesisir utara Cirebon hanya buang uang dan tenaga,’ kata lulusan Jurusan Hama dan Penyakit, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Sudirman, itu. Itu memang dirasakan Muhidin, selama 31 tahun bergelut dengan ikan bermulut mungil itu tidak pernah untung besar. ‘Kalau tidak rugi, paling pas-pasan,’ ujarnya.

Gedebong pisang
Teknologi yang diterapkan Muhidin sebetulnya sangat sederhana. Mula-mula kolam dikeringkan. Saat itulah pria 46 tahun itu menaburkan cacahan 20 gedebong pisang. Menurut Junaedi gedebong pisang kaya unsur fosfor organik yang tidak merusak tanah kolam. Karena tanah tetap gembur, unsur hara di dalam kolam mudah diserap tanaman yang menjadi makanan bandeng yaitu klekap. Penggunaan gedebong cukup 1 kali dalam setahun atau 5 periode.

Setelah itu kolam dengan kedalaman 60-80 cm (dasar kolam menyerupai punggung kura-kura) itu diisi air hingga macak-macak. Jangan lupa air disaring agar tidak banyak predator masuk. Gunakan racun jika terlihat banyak predator. Tiga hari kemudian isi dengan air hingga ketinggian 40-60 cm. Terlalu dalam, sinar matahari yang dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis tidak bisa masuk ke dasar kolam.

Muhidin masih menambahkan 1 liter probiotik untuk meningkatkan kesuburan kolam. Probiotik yang berisi mikroba itu dicampurkan ke dalam 50 liter air, lalu disebar merata ke seluruh kolam. Biarkan kolam selama 3 hari sebelum bibit bandeng ditebar. Bibit yang digunakan berukuran 2,5-3 cm dengan padat penebaran 3.000 ekor. ‘Idealnya bibit berukuran 5 cm supaya lebih kuat. Tapi karena ketersediaan terbatas, bibit ukuran lebih kecil pun diambil,’ tutur Muhidin.

Tiga pekan berselang Muhidin kembali menambahkan suplemen yang berasal dari ekstrak kotoran walet, sayur-sayuran, dan buah-buahan, serta ikan. Dosisnya sama, 1 liter untuk kolam seluas 4.000 m2. Tujuannya untuk mengantisipasi ketersediaan pakan yang berkurang setelah bandeng tumbuh besar. ‘Suplemen ini boleh digunakan, boleh juga tidak jika klekap yang tumbuh bisa mencukupi kebutuhan ikan,’ tutur Junaedi, formulator suplemen.

Tumbuh cepat

Meski tanpa diberi pakan pelet, pertumbuhan bandeng luar biasa cepat. ‘Saya kaget, pada umur 50 hari bandeng sudah besar-besar: sekilo isi 10 ekor,’ kata Muhidin. Saat itu juga Muhidin dan Fuji, istrinya, melakukan pemanenan. Padahal biasanya dengan budidaya konvensional dibutuhkan waktu 5-6 bulan untuk mencapai bobot sekilo isi 10 ekor. Itu pula yang Trubus saksikan ketika akhir Desember 2008 berkunjung ke kolam pembesaran milik Muhidin. Puluhan bandeng berumur 43 hari yang diambil sebagai sampel rata-rata berbobot 10-12 ekor per kilogram.

‘Bandeng tumbuh cepat karena klekap tumbuh subur, sehingga ketersediaan pakan melimpah. Tapi Saya juga tak menduga panen bisa secepat itu,’ imbuh Junaedi. Pria yang aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat itu memang melihat keanehan saat bibit ditebar. Biasanya bibit yang baru ditebar muncul ke permukaan setelah 10 hari. Namun, dengan teknologi baru, bibit bandeng sudah terlihat ‘berjalan-jalan’ beberapa jam kemudian. Itu artinya bibit langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan sehingga tidak terjadi stagnasi pertumbuhan.

Selain tumbuh supercepat, tingkat kelulusan hidup juga meningkat drastis dari 70% menjadi 98%. Itu lantaran gedebong pisang dan probiotik bisa menstabilkan salinitas dan pH air. ‘Bandeng sangat peka terhadap perubahan salinitas. Salinitas naik di atas 35 ppm saja, teler semua,’ kata Arif Budiman, yang juga menerapkan teknologi baru budidaya bandeng. ‘Alhamdulillah tingkat kematian bandeng bisa ditekan, sekalipun musim kemarau yang biasanya banyak mati,’ lanjutnya. Arif menuturkan petambak di Desa Ender, Cirebon, tidak jauh dari Bendungan-tempat Arif membudidayakan bandeng-memperoleh tambahan udang putih hingga 99 kg dari tambaknya. Musababnya, udang liar yang terbawa dari laut pasang itu bisa hidup nyaman di tambak.

Dengan singkatnya waktu pengusahaan dan tidak perlu pakan pelet, jelas biaya produksi terpangkas habis. Muhidin menghitung-hitung, terjadi penghematan 80%. Bayangkan ketika masih menggunakan cara konvensional untuk memelihara 2.000 ekor butuh biaya pemeliharaan Rp2-juta. Namun dengan cara baru, biaya hanya dikeluarkan untuk bibit seharga Rp80/ekor serta probiotik dan suplemen masing-masing Rp62.000/liter. Pantaslah dengan harga bandeng Rp8.500-Rp9.000/kg pun, petambak menjadi lebih terbantu dan mendapatkan hasil yang lebih banyak.


Sumber: http://www.trubus-online.co.id
Previous
Next Post »